Rabu, 02 Mei 2012

PENERAPAN PENDEKATAN STIMULUS - RESPON DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS V SD NEGERI I PENITI DENGAN POKOK BAHASAN KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DI INDONESIA KECAMATAN PATANI UTARA KABUPATEN HALMAHERA TENGAH

PENERAPAN PENDEKATAN STIMULUS - RESPON
DALAM PEMBELAJARAN  IPS KELAS V SD NEGERI I PENITI
DENGAN POKOK BAHASAN KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DI INDONESIA
KECAMATAN PATANI UTARA KABUPATEN HALMAHERA TENGAH 


Mashud Nuhu


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Era reformasi dan desentralisasi sekarang ini, berbagai kritikan dalam dunia pendidikan bahkan berbagai kelemahan yang menjadi bahan dan sasaran bagi orang lain untuk menafsirkan kembali tentang adanya perkembangan pendidikan masa kini. Satu hal yang menjadi sasaran kritik para kelompok kritis adalah kualitas dan kinerja guru sebagai pengajar yang mengelolah bahan ajar. Persepsi ini kemudian menjadi bahan kajian para guru untuk meningkatkan kualitasnya. Guru yang memiliki ikatan profesional dan emosional tidak pernah merasa putus asa kiranya akan menjadi sebuah masukan yang sangat berarti terhadap kinerja guru dalam hal pengelolaan kelas, muatan ini kemudian menerobos masuk terhadap kritikan yang menjadi pemicu untuk melakukan perbaikan kualitas guru.
Guru dalam melaksanakan tugasnya dan menaati semua aktifitas yang akan dilaksanakan tidaklah mudah karena membutuhkan banyak waktu untuk mengatur strateginya agar merancang prioritas programnya mengarah pada sasaran dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Tugas dan tanggung jawab guru bukan hanya mendidik dan mengajar tetapi juga mengembangkan kualitas siswa melalui moralitas dalam kegiatan pembelajaran. Ukuran kinerja guru terlihat dari rasa tanggung jawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, dan rasa tanggung jawab moral dipundaknya. Semua itu akan terlihat pada kepatuhan dan loyalitasnya dalam menjalankan tugas guru di dalam kelas dan tugas pendidik diluar kelas. Sikap ini disertai pulah rasa tanggung jawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran.
Selain itu, guru juga sudah mempertimbangkan metodologi yang akan digunakan, termasuk alat media pendidikan yang akan dipakai, serta alat penelitian apa yang akan digunakan di dalam pelaksanaan pemebelajaran hingga pada tingkat evaluasi guna menentukan sejauh mana tugas seorang guru dalam meningkatkan kompetensinya. Ketaatan guru dan tugas guru dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan tahun ke tahun terus di tingkatkan. Guru  mempunyai komitmen untuk meningkatkan belajar, tanpa itu guru akan kerdil ilmu pengetahuan, akan tetapi tertinggal akselerasi zaman yang semakin tidak menentu. Apalagi pada kondisi saat ini semua serba cepat, serta dinamis, dan serba kompetetif.
Guru merupakan sosok terdepan dan posisi sentral di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola bahan pengajaran. Lebih dari itu, guru harus mampu untuk memilih metode yang akan dipakai dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan.
Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlansung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang materi secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi  yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, menonton, dan membosankan
            Sebagaimana penjelasan sebelumnya, dalam  penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi masalah-masalah yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa Kelas V SD Negeri I Peniti, yaitu kurangnya inofasi dan kreatifitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran IPS berlansung menonton dan membosankan. Salah satu mendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan stimulus-respon.
            Dalam pendekatan ini, guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan masing-masing di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa  berupa stimulus melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya.
Dari ilustrasi singkat di atas, peneliti tertarik untuk merumuskan judul dalam penelitian ini adalah ” Penerapan Pendekatan Stimulus - Respon Dalam Pembelajaran  Ips Kelas V Sd Negeri I Peniti Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Dengan Pokok Pembahasan Keragaman Suku Bangsa Dan Budaya Di Indonesia ”

B. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimana penerapan pendekatan stimulus-respon dalam pembelajaran IPS siswa Kelas V SD Negeri I Peniti  ?
2.      Bagaimana hasil belajar siswa Kelas V SD Negeri I Peneti Kabupaten Halmahera Tengah dalam pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan Stimulus-Respon.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu :
1.        Untuk mendeskripsikan bentuk penerapan pendekatan stimulus-respon dalam pembelajaran IPS siswa Kelas V SD Negeri I Peniti Kabupaten Halmahera Tengah .
2.        Mengetahui hasil belajar siswa Kelas V SD Negeri I Peniti  Kabupaten Halmahera Tengah dalam pembelajaran IPS melalui  penerapan pendekatan Stimulus-Respon.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penenltian ini adalah :
1.             Hasil penelitian ini akan dijadikan acuan Sebagai bahan informasi bagi peneliti-peneliti selanjutnya dalam mempelajari bentuk penerapan pendekatan Stimulus-Respon dalam pembelajaran IPS siswa Kelas V SD Negeri I Peniti.
2.             Untuk menambah khasanah dan memperkaya penelitian ilmiah di Fakultas Ilmu Pendidikan pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( STIKIP KIE RAHA TERNATE )
3.             Sebagai bahan reverensi mengenai cara-cara penggunaan pendekatan belajar Stimulus-Respon dalam pembelajaran IPS Siswa Kelas V SD Negeri I Peniti Kabupaten Halmahera Tengah.
4.             Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan sumbangan pemikiran  kepada para staf pengajar pendidikan Sekolah Dasar Negeri I Peniti Kabupaten Halmahera Tengah dan Propinsi Maluku Utara pada umumnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Teori Belajar
Teori adalah sejumlah proposisi yang terintegrasi  secara sintaktik dan yang di gunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang di amati ( Snelbecker, 1974 dalam Dahar, 1988: 5). Propisisi yang terintegrasi secara sintaktik, artinya, kumpulan propisisi ini mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis propisisi yang satu dengan propisisi lainya dan juga pada data yang di amati. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, proposisi berarti rancangan usulan ( Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002: 899 ). Dengan demikian  proposisi dalam kaitanya dengan teori, berarti francangan gagasan untuk memprediksi dan menjelaskan fenomena-fenomena. Sala satu fenomena itu adalah belajar dan pembelajaran yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Individu dapat dikatakan telah mengalami proses belajar, meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam kecendrungan perilaku (De Cecco & Crawford, 1977 dalam Ali, 2000: 14). Perubahan perilaku tersebut mencakup pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan sebagainya yang dapat maupun tidak dapat diamati . Perilaku yang dapat diamati disebut penampilan (behavioral performance) sedangkan yang tidak dapat diamati disebut kecendrungan perilaku (behavioral tendency). Penampilan yang dimaksud dapat berupa kemampuan menjelaskan, menyebutkan, dan melakukan sesuatu perbuatan. Terdapat perbedaan yang mendasar antara perilaku hasil belajar dengan yang terjadi secara kebetulan. Seseorang yang secara kebetulan dapat melakukan sesuatu, tidak dapat mengulangi perbuatan itu dengan hasil yang sama. Sedangkan seseorang dapat melakukan sesuatu karena hasil belajar dapat melakukkannya secara berulang-ulang dengan hasil yang sama. Gagne (1977) seperti yang dikutip Miarso (2004), berpendapat bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap pribadi (hasil) yang merupakan hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal dilingkungan pribadi yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan peristiwa pembelajaran (metode atau perlakuan).
Proses belajar dalam konteks pendidikan formal, merupakan proses yang dialami secara langsung dan aktif oleh pebelajar pada saat mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar yang direncanakan atau disajikan di sekolah, baik yang terjadi di kelas maupun di luar kelas (Soedijarto, 1993: 94). Proses belajar yang berkulitas dan relevan tidak dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan perlu direncanakan. Belajar merupakan kegiatan aktif pebelajar dalam membangun makna atau pemahaman, sehingga diperlukan dorongan kepada pebelajar dalam membangun gagasan (Depdiknas, 2002). Oleh karena itu diperlukan penciptaan lingkungan yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab pebelajar untuk belajar sepanjang hayat. Pembelajaran yang melibatkan seluruh indera akan lebih bermakna dibandingkan dengan satu indera saja. (Dryden, dan Jeannette, 2002: 195). Hal ini akan memunculkan kreativitas untuk menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru dan tidak terpaku pada satu cara saja.
Proses belajar  adalah fenomena yang kompleks, dimana melibatkan setiap kata, pikiran, tindakan, dan juga asosiasi. Lozanov (1978), mengatakan bahwa sampai sejauh mana seorang guru mampu mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajarannya, maka sejauh itu pula proses belajar mengajar itu berlangsung (DePorter, 2002: 3). Ini berarti, dalam pembelajaran diharapkan dapat mengarahkan perhatian pebelajar ke dalam nuansa proses belajar seumur hidup dan tak terlupakan. Hal ini, sesuai dengan empat pilar pendidikan seumur hidup, seperti yang ditetapkan UNESCO, yaitu 1) to learn to know (belajar untuk berpengetahuan), 2) to learn to do (belajar untuk berbuat), 3) to learn to live together (belajar untuk dapat hidup bersama), dan 4) to learn to be (belajar untuk jati diri) (Sadia, 2006). Untuk itu diperlukan membangun ikatan emosianal dengan pebelajar, yaitu dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan ancaman. Hal ini merupakan faktor yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Studi-studi menunjukkan bahwa pebelajar lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang, dan ramah. Dengan kondisi seperti itu, siswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela yang berhubungan dengan bahan pelajaran (Walberg, 1997 dalam DePorter, B., 2002: 23). Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena belajar dan pembelajaran, sehingga dalam implementasinya dapat lebih efektif dan efesien.
Ada perbedaan yang prinsip antara teori belajar dengan teori pembelajaran. Teori belajar adalah deskriptif, karena tujuan utamanya memeriksa proses belajar. Sedangkan teori pembelajaran adalah preskriptif, karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal (Bruner dalam Degeng, 1989 dalam Budiningsih, 2005: 11). Teori belajar lebih fokus kepada bagaimana peserta didik belajar, sehingga berhubungan dengan variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Dalam teori belajar, kondisi dan metode pembelajaran merupakan variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung. Dengan demikian, dalam pengembangan teori belajar, variabel yang diamati adalah hasil belajar sebagai efek dari interaksi antara metode dan kondisi.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu ineraksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar perserta didik perlu sesering mungkin diberikanstimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut
B.     Belajar Sebagai Proses Interaksi Antara Stimulus Dan Respon
Belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Hamalik, Oemar. (1980;113). Oleh karena itu, kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Teori seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa menurut teori – teori belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh teori  – teori belajar adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon.
Teori - teori belajar mempunyai dasar ide bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas, dimana anak atau murid harus mampu mengorganisir bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk  akhir.  Prosedur ini berbeda dengan  “reception learning”  atau  “expository teaching”,  dimana guru menerangkan semua bahan atau informasi itu. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna, dan makin meningkat kea rah yang abstrak.  Salah satu cara program pengajaran yang efektif menurut Bruner, ialah dengan mengkoordinasikan mode penyajian bahan dengan cara dimana anak itu dapat mempelajari bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingkat kemajuan anak dimulai dari tingkat representasi sensory (enactive) ke representasi concrit (iconic) dan akhirnya ke tingkat representasi yang abstrak (simbolik). Demikian juga dalam penyusunan kurikulum dari satu mata pelajaran, harus ditentukan oleh pengertian yang sangat fundamental bahwa hal itu dapat dicapai berdasarkan prinsip-prinsip yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu. Maka dalam mengajar, murid harus mempelajari prinsip-prinsip itu sehingga terbentuklah suatu disiplin dalam diri mereka. Sebalaiknya, seorang guru juga harus mampu memberian kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solving, seorang scientis, historin ataupun ahli matematika. Biarlah murid-murid tersebut mencari dan menemukan arti bagi diri mereka sendiri sehingga pada akhirnya memungkinkan mereka utuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mudah di mengerti oleh mereka.
a.    Jenis Pengetahuan
Menurut pendekatan kognitif yang mutakhir, elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu kepada situasi belajar. Dengan kata lain apa yang telah kita diketahui akan sangat menentukan apa yang akan menjadi perhatian, dipersepsi, dipelajari, diingat ataupun dilupakan. Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya, tapi juga akan membimbing proses belajar berikutnya. Berbagai riset terapan tentang hal ini telah banyak dilakukan dan makin membuktikan bahwa pengetahuan dasar yang luas ternyata lebih penting dibanding strategi belajar yang terbaik yang tersedia sekalipun. Terlebih bila pengetahuan dan wawasan yang luas ini disertai dengan strategi yang baik tentu akan membawa hasil lebih baik lagi tentunya.
Perspektif kognitif membagi jenis pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
1.       Pengetahuan Deklaratif, yaitu pengetahuan yang bisa dideklarasikan biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya pengetahuan konseptual.
2.       Pengetahuan Prosedural, yaitu pengetahuan tentang tahapan yang harus dilakukan misalnya dalam hal pembagian satu bilangan ataupun cara kita mengemudikan sepeda, singkatnya “pengetahuan bagaimana”.
3.       Pengetahuan Kondisional, adalah pengetahuan dalam hal “kapan dan mengapa” pengetahuan deklaratif dan prosedural digunakan.
Pengetahuan deklaratif rentangnya sangat beragam, bisa berupa pengetahuan tentang fakta (misalnya, bumi berputar mengelingi matahari dalam kurun waktu tertentu), generalisasi (setiap benda yang di lempar ke angkasa akan jatuh ke bumi karena adanya gaya gravitasi), pengalaman pribadi (apa yang diajarkan oleh guru sains secara menyenangkan) atau aturan (untuk melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan maka pembilang harus disamakan terlebih dahulu).
Menyatakan proses penjumlahan atau pengurangan pada bilangan pecahan menunjukkan pengetahuan deklaratif, namun bila siswa mampu mengerjakan perhitungan tersebut maka dia sudah memiliki pengetahuan prosedural. Guru dan siswa yang mampu menyelesaikan soal melalui rumus tertentu atau menterjemahkan teks bahasa Inggris adalah contoh kemampuan pengetahuan prosedural lainnya. Seperti halnya siswa yang mampu berenang dalam satu gaya tertentu, berarti dia sudah menguasai pengetahuan prosedural hal tersebut, dengan kata lain penguasaan pengetahuan ini juga dicirikan oleh praktek yang dilakukan. Sedangkan pengetahuan kondisional adalah kemampuan untuk dapat mengaplikasikan kedua jenis pengetahuan di atas. Dalam menyelesaikan persoalan perhitungan kimia misalnya, siswa harus dapat mengidentifikasi terlebih dahulu persamaan apa yang perlu dipakai (pengetahuan deklaratif) sebelum melakukan proses perhitungan (pengetahuan prosedural). Pengetahuan kondisional ini jadinya merupakan hal yang penting dimiliki siswa, karena menentukan penggunaan konsep dan prosedur yang tepat. Terkadang siswa mengetahui fakta dan dapat melakukan satu prosedur pemecahan masalah tertentu, namun sayangnya mengaplikasikannya pada waktu dan tempat yang kurang tepat.
Hal yang sangat penting jadinya untuk mengidentifikasi jenis pengetahuan ini bagi guru ketika mengajar. Mempelajari informasi tentang pokok bahasan tertentu tidak selalu menyebabkan siswa akan menggunakan informasi tersebut. Tidak juga latihan menyelesaikan banyak soal pada topik bahasan tertentu, akan membantu mereka memahami satu prinsip lebih mendalam. Mengetahui sesuatu topik, mengetahui prosedural penyelesaian masalah serta tahu kapan dan mengapa menggunakan pengetahuan tersebut adalah hasil belajar yang berbeda-beda, dan tentu saja ini perlu diajarkan dengan cara yang berbeda pula.
C.     Azas Belajar Yang Utama
Azas belajar yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama Nasution, S. (1995;289). Hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie (Nasution, S. 1995;213) juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak. Munadi, (2008; 18)..
D.    Konsep Belajar Stimulus - Respos
Konsep-konsep tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Hal ini kemudian mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Sardiman, (2007;130). Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku, Sardiman, dkk. (2001;164). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut juga merupakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan pada ranah-ranah Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup. Sikomotorik yaitu kemepuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.
Menurut Gagne (1970), Belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebab oleh stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Belajar terdiri dari tiga komponen penting yakni kondisi eksternal yaitu stimulus dari lingkungan dari acara belajar, kondisi internal yang menggambarkan keadaan internal dan proses kognitif siswa, dan hasil belajar yang menggambarkan informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif.  Robert M. Gagne mengemukakan delapan tipe belajar yang membentuk suatu hirarki dari paling sederhana sampai paling kompleks yakni : belajar tanda-tanda atau isyarat (Signal Learning) yang menimbulkan perasaan tertentu, mengambil sikap tertentu,yang dapat menimbulkan perasaan sedih atau senang,  belajar hubungan stimulus-respons (Stimulus Response-Learning)dimana respon bersifat spesifik, tidak umum dan kabur,  belajar menguasai rantai atau rangkaian hal (Chaining Learning) mengandung asosiasi yang kebanyakan berkaitan dengan keterampilan motorik,  belajar hubungan verbal atau asosiasi verbal (Verbal Association) bersifat asosiatif tingkat tinggi tetapi fungsi nalarlah yang menentukan,  belajar mebedakan atau diskriminasi (Discrimination Learning) yang menghasilkan kemampuan membeda-bedakan berbagai gejala. , belajar konsep-konsep (Concept Learning) yaitu corak belajar yang menentukan ciri-ciri yang khas yang ada dan memberikan sifat tertentu pula pada berbagai objek. belajar aturan atau hukum-hukum (Rule Learning) dengan cara mengumpulkan sejumlah sifat kejadian yang kemudian dalam macam-macam aturan, belajar memecahkan masalah (Problem Solving) menggunakan aturan-aturan yang ada disertai proses analysis dan penyimpulan.
E.     Hasil Belajar
Hasil belajar yang sering disebut dengan istilah "scholastic achievement" atau "academic achievement" adalah seluruh efisiensi dan hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil Belajar (Briggs, 1979:147) . Menurut Gagne dan Driscoll (1988:36) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner 's performance). Gagne dan Briggs (1979:52) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan internal (capability) yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu. Dick dan Reiser (1989:11)mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran, yang terdiri dari empat jenis, yaitu: pengetahuan, keterampilan intelektual, keterampilan motor dan sikap. Sedangkan Bloom, et.al (1966:7) membedakan hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan motor). Setiap ranah diklasifikasikan lagi dalam beberapa tingkat atau tingkat kemampuan yang harus dicapai (level of competence). Untuk ranah "pengetahuan" mulai dari tingkat yang paling ringan yaitu; mengingat penilaian (evaluation). Ranah sikap mulai dari menangkap / merespon pasif, bereaksi dengan sukarela / merespon aktif, mengapresiasi, menghayati / internalisasi, sampai akhirnya menjadi karakter atau jiwa di alam dirinya (life style)

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas tersebut merupakan penelitian kualitatif, meskipun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, di mana uraiannya bersifat deskriptif  dalam bentuk kata-kata. Lebih tepatnya, rancangan penelitian seperti itu dapat disebut penelitian deskriptif yang berorientasi pada pemecahan masalah, karena sesuai dengan aplikasi tugas guru dalam memecahkan masalah pembelajaran atau dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran (Tika, 2005 : 4)
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk tindakan siklus di dalam kelas, yaitu pra tindakan, siklus I. Hasil refleksi pada pra tindakan digunakan sebagai acuan untuk rencana tindak lanjut pada siklus I. Hasil refleksi pada pra tindkan digunakan sebagai acuan untuk rencana tindak lanjut pada siklus I. Pada siklus I penelitian ini terdapat beberapa tahapan, yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan / implementasi tindakan, tahap onservasi, dan tahap refleksi.
Pendekatan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan kualitatif, sebab dalam melakukan tindakan kepada subyek penelitian, yang sangat diutamakan adalah mengungkap makna, yakni makna dan proses pembelajaran sebagai upaya meningkatkan motivasi, kegairahan dan prestasi belajar melalui tindakan yang dilakukan, dengan ciri-ciri pendekatan yaitu: menggunakan latar alamiah, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, induktif, dan makna merupakan hal yang esensial.
B.  Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan individu yang menjadi subjek penelitian (Arikunto 1993: 109). Sedang menurut  Subagyo, (1996: 22) populasi adalah totalita semua nilai yang mungkin, hasil penghitungan ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitas mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa  SD kelas V IPS Negeri 1  Peniti berdasarkan defenisi di atas, maka populasi yang diambil atau dijadikan penelitian ini adalah siswa Kelas V SD Negeri Peniti  dengan jumlah 24 siswa, terdiri dari Kelas  A1 IPS berjumlah 12 siswa dan Kelas A2 IPS berjumlah 12 siswa. Alasan untuk mengambil secara keseluruhan karena mengingat jumlah siswa mencukupi standar penarikan sampel sebagaimana tertera dalam tabel di bawah ini :
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili karakteristik responden (Arikunto, 1993:104). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 100% dari jumlah siswa Kelas V IPS karena untuk mata pelajaran IPS Kelas V hanya dibatasi pada Kelas V IPS. Seperti pendapat bahwa apabila subjek penelitian kurang dari 100 siswa, lebih baik diambil semua sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika subjeknya besar dapat diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih (Arikunto, 1995:107).
C.Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat  Penelitian
Tempat penelitian ini di laksanakan di SD Negeri I Peniti Desa Peniti Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah  Propinsi Maluku Utara. Hal ini peneliti lakukan dengan pertimbangan sebagai anak daerah di lokasi penelitian sehingga mempermuda peneliti untuk memperoleh data informasi dalam pelaksanaan penelitian yang di maksud.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini lakukan di SD Negeri I Peniiti pada semester Genap 2012
D.    Tehnik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data dan informasi yan falid yang bersentuhan langsung dengan penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa tehnik pengumpulan data dan informasi sebagai berikut yakni :  
1.      Observasi
Pengumpulan data dan informasi dengan mengunakan pengamatan secara lengsung atau penginderaan lansung terhadap suatu benda, kondisi, situasi atau perilaku.
2.      Wawancara
Pengumpulan data melalui proses wawancara secara langsung dengan sumber informasi secara lisan dan tuliisan sehingga mendapatkan jawaban-jawaban yang sesuai dengan masalah-masalah yang di teliti dengan metode Tanya jawab antara peneliti dan sumber informasi.


3.      Dokumentasi
Untuk menguatkan data dan informasi peneliti yang berhubungan dengan masalah yang di teliti oleh penulis yang di kuatkan dengan dokumentasi dalam rangkah untuk mengetahui tentang subjek dan objek yang akan teliti.
4.      Pengukuran Test Hasil Belajar
Pengukuran test hasil belajar di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dengan melihat Nilai yang di peroleh oleh siswa. Test tersebut juga sebagai sala satu rangkaian kegiatan dalam penerapan pembelajaran dengan mengguinakan pendekatan stimulus-respon.
5.      Sumber Data
a.       Data Primer
Data primer yang di maksud adalah sumber data yang di dapat secara langsung dari sumber informasi yang di berikan kepada peniliiti. Data tersebut berupa jawaban-jawaban dari sumber informasi atas pertanyaan – pertanyaan yang di ajukan oleh penulis dengan menggunakan metode wawancara secara langsung kepada sumber informasi.
b.      Data Sekunder.
Data sekunder adalah data yang di peroleh dari SD Negeri Peniti Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah berupa data secara tertulis atau dokumen-dokumen, dan laporan-laporan pertanggung jawaban program-program yang dirancangkan oleh guru-guru SD Negeri I Peniti Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah.
6.    6.   Sumber Data Primer
Sumber data yang di maksud disini adalah  Kepala Sekolah dan Sekertaris Kepala Sekolah,  Kepala bagian Kesiswaan, dan Guru Kelas Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) SD Negeri I, Peniti Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah.
7.      Tahapan Penelitian
dalam penelitian kualitatif ada empat tahapan yang di lakukan oleh peneliti yaitu ; tahap pra lapangan, tahap analisis data dan pelaporan data.
a.       Tahap Pra Lapangan
Pada tahap ini harus dilakukan peniliti adalah :
1.      Menyusun rancangan penelitian menurut Lexy Meleong di sebut dengan usulan penelitian.
2.      Memilih lapangan.
3.      Mengurus perizinan.
4.      Menjajaki dan menilai keadaan lapangan.
5.      Memilih dan memanfaatkan informasi.
6.      Menyiapkan perlengkapan penelitian.
b.      Tahap Pekerjaan Lapangan
Pada tahap pekerjaan lapangan ini ada tiga langka yang harus dilakukan oleh peneliti yaitu :
1.      Memahami latar penelitian dan persiapan diri.
2.      Memasuki lapangan.
3.      Berperan serta sambil mengumpulkan data.
Langkah – langkah penelitian kelas pada model spiral siklus, pada model ini terdapat empat tahapan yang terdiri dari perencanaan ( planning ), pelaksanaan ( acting ), pengamatan ( observing ), refleksi ( reflecting ).
c.       Siklus I
1.      Disiapkan
a.       Materi Pembelajaran
Materi pelajaran dari buku penunjang dan LKS. Selain itu juga peneliti memberikan materi Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia pelajaran yang berkaitan dengan materi IPS dengan menggunakan pendekataan stimulus-respon.
b.      Soal-Soal Evaluasi
Soal-soal evaluasi merupakan lembar kerja siswa yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sesuai tugas yang tercantum secara lisan maupun tulisan. Hasil dari tes tersebut kemudian dianalisis dan dievaluasi. Berdasarkan analisis hasil evaluasi dapat diketahui ketentuan belajar siswa baik secara individu maupun klasikal.
c.       Intrumen Penelitian
Intrumen penelitian adalah lembar observasi dan angket, intrumen penelitian berupa pedoman observasi dan wawancara yang di gunakan untuk proses pembelajaran yang tela di lakukan.
2.      Pelaksanaan ( sesuai RPP )
3.      Pengamatan
Peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan belajar mengajar  yang di lakukan selama proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) di kelas.


4.      Refleksi
Menganalisa dan mengevaluasi hasil dari proses pembelajaran yang telah di lakukan permasalahan yang muncul pada pembelajaran siklus I kemudia di identifikasi dan di cari penyelesainya untuk di jadikan acuan pada tahap perencanaan siklus II.
B.     Teknik Analisis Data           
   Teknik analisis data digunakan untuk mengetahui penggunaan pendekatan penerapan pendekatan stimulus-respon dalam pembelajaran IPS  siswa Kelas V SD Negeri 1 Peniti Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Setelah data dikumpulkan, maka teknik yang dipakai dalam menganalisis data tersebut adalah teknik deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus presentase sebagai berkut:
          F
P =              X 100 %
          N
    Keterangan :   
P         = tingkat presentase
F         = frekuensi yang diobservasi
N         = frekuensi yang diharapkan
100 %  = bilangan tetap
   Selain terjadi peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar, juga harus memenuhi  kriteria ketuntasan belajar secara klasikal yaitu ≥ 70%. Keberhasilan proses ditentukan dengan menggunakan lembar observasi.  Analisis data hasil observasi menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh masing-masing indikator dijumlahkan dan hasilnya disebut jumlah skor. Selanjutnya dihitung persentase nilai rata-rata dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal yang dikalikan 100% yaitu :
Persentase terendah adalah 0%, dan persentase tertinggi adalah 100%. Pada  pembelajaran ini terdapat 5 kriteria penilaian yaitu: sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang. Sehingga kriteria penilaian ditentukan sebagai berikut:
a.       Tabel 3.1
Skala interval tentang  Penerapan Pendekatan Stimulus-Respon dalam Pembelajaran IPS Siswa Kelas V SD Negeri I Peniti
NO
KELAS INTERVAL
PREDIKAT
1
0 – 20 %
Sangat kurang
2
21 – 40 %
Kurang
3
41 – 60 %
Cukup
4
61 – 80 %
Baik
5
81 – 100 %
Sangat baik

b.      Reduksi Data
Reduksi data adalah merangkum segala data dan informasi yang di dapat dari sumber informasi yang di anggap menyentu dengan masalah-masalah yang di teliti
c.       Penyajian Data
Setelah data di reduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data di lakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar katagori dan sejenisnya. Dengan penyajian data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah di pahami tersebut.

d.      Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan merupakan peryataan singkat jelas dan sistematis dari keseluruhan hasil analisis dan pembahasan serta pengetesan hipotesis yang di ajukan dalam penelitian . dari konsep ini peneliti dapat menganalisa dan menguji kebenaran vaiditas data yang ada dengan kalimat yang singkat, padat dan muda di pahami.


DAFTAR PUSTAK
Kusuma, S.Y. 2003. Modul Metode, Pendekatan Dan Model Pembelajaran IPS. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Sardiman N. dkk. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Arikunto, S. dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Bumi Aksara
Depdikbud. 1996/1997. Media Dalam Proses Pembelajaran I. Jakarta, Direktorat Pendidikan Dasar Dan Menengah
Syah, M. 2007. Psikologi Belajar. Rajawali Pers. Bandung
Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta.
Nasution, S. 1995. Didakti Azas-Azas Mengajar. Jakarta, Bumu Aksara.
Hamalik, Oemar. 1980. Media Pendidikan. Bandung.
Sudjana, N. 2004. Penelitian Dan Penilaian Pendidikan. Bandung. Sinar Baru Algesinto
Sardiman, A.M. 2007. Interaksi Belajar Mengajar. Radja Grafindo Persada. Jakarta
Sumatmadja, N. 1980. Metodologi Pengajaran IPS. Penerbit Alumni. Bandung
Toha, C. 2003. Tekni Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada. Jakarta



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar